Rabu, 26 Agustus 2009

PENELITIAN ILMIAH

PENELITIAN ILMIAH
Tidak semua kegiatan mencari tahu adalah kegiatan penelitian dalam makna “research”, dan tidak semua ‘penelitian’ seperti disebut di atas tadi dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Lalu, dengan demikian, apa yang dimaksudkan dengan penelitian ilmiah?
Ciri-ciri suatu penelitian ilmiah adalah bersistem, dikendali, empiris dan penyelidikan kritis terhadap proposisi hipotetis mengenai hubungan yang diperkirakan antar gejala-gejala alamiah. Pendekatan ilmiah adalah suatu bentuk khusus disistematiskan dari semua pemikiran reflektif dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari rasa ingin-tahu mendalam.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa suatu penelitian ilmiah:
1. Tertata menurut suatu sistem, dengan peneliti dapat memiliki kepercayaan kritis (tidak dogmatis) terhadap hasil yang didapat dari penelitian.
2. Empiris. Jika peneliti mempercayai sesuatu, maka hal itu harus didasarkan atas data empiris yang terbuka untuk diuji lagi secara objektif, baik oleh peneliti bersangkutan maupun oleh peneliti lain, yaitu suatu pengujian yang bebas dari perasaan pribadi bersangkutan.
Dalam suatu laporan ilmiah pemerian yang jujur, singkat tetapi jelas mengenai bahan (objek) penelitian yang digunakan, perlakuan atau faktor yang ditelaah pengaruhnya, rancangan dan prosedur pengumpulan data, satuan pengamatan, definisi dan pengukuran peubah-peubah penelitian, suasana ketika pengumpulan data, satuan evaluasi dan sebagainya perlu dicantumkan agar peneliti lain dapat memberikan penilaiannya secara objektif. Baik terhadap hasil penelitian itu sendiri maupun dalam membandingkannya dengan penelitian serupa, termasuk yang masih dalam status rencana.
Suatu penelitian ilmiah pada dasarnya adalah mendeduksi suatu teori pada keadaan-keadaan sebatas yang nyata dilakukan dan dipelajari, untuk kemudian melakukan suatu induksi berdasarkan keterangan yang dapat ditambang dari data empiris untuk maksud memperbaiki teori yang ada. Bahkan mungkin menghasilkan teori baru mengenai sesuatu.
Di lingkungan akademisi Indonesia istilah “penyelidikan”, “pengkajian” dan “penelitian” masing-masing tampaknya telah diterima secara luas sebagai suatu padanan terhadap istilah-istilah “investigation”, “study” dan “research” dalam Bahasa Inggeris.
Menyelenggarakan suatu telaahan, kajian atau penelitian ilmiah dalam suatu bidang atau lintas-bidang ilmu-pengetahuan & teknologi dan kemudian menyajikannya ke dalam suatu bentuk karya tulis ilmiah: skripsi, tesis atau disertasi merupakan suatu pra-syarat untuk meraih gelar akademis: sarjana, magister atau doktor. Tetapi, ditenggarai bahwa tidak sedikit mahasiswa mengalami hambatan dari dalam dirinya sendiri ketika berhadapan dengan tugas tersebut.
Mahasiswa perlu dibekali atau membekali diri dengan pengetahuan mengenai metodologi penelitian dan pedoman menyusun karya tulis ilmiah. Bahan yang diberikan untuk masing-masing dari kedua hal tadi dapat bervariasi untuk antar program-program studi. Yaitu, misalnya karena perbedaan dalam hal kekhasan program studi dan konvensi yang diikuti. Tetapi dalam banyak hal umumnya menunjukkan kesamaan, kesejajaran atau kesetaraan dalam asas-asas dan teknik-teknik.
Pemberian satu atau lebih matakuliah dalam statistika dimaksudkan untuk membekali mahasiswa agar mampu menggunakan statistika sebagai suatu ‘alat’ atau ‘bahasa’ bantu dalam memahami dan mengembangkan sendiri konsep-konsep dalam bidang-bidang ilmu minatnya dan sebagai ‘alat’ berharga untuk penelitian dan pengembangan suatu bidang “IpTek”.
Ada berbagai penamaan jenis-jenis penelitian yang kadang terasa rancu seperti halnya sering ditemukan dari penggunaan kata ‘penelitian’ untuk kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bukan penelitian dalam makna ‘research’. Tidak jarang yang dimaksud dengan ‘penelitian’ ternyata adalah lebih merupakan kegiatan untuk mencari tahu mengenai sesuatu dalam makna pelacakan pendeterminasian, pemeriksaan, uji-coba, pengeksplorasian atau penyelidikan.
Ada berbagai penamaan dikhotomi berjenis-jenis penelitian, misalnya penelitian ‘sendiri’ lawan penelitian ‘pesanan’, penelitian ‘akademis’ lawan penelitian ‘praktis’, penelitian ‘ilmiah’ lawan penelitian ‘terapan’, penelitian pengembangan, penelitian ‘kuantitatif’ lawan penelitian ‘kualitatif’. Penamaan lainnya, misalnya penelitian ‘tindak’, penelitian ‘kebijakan’, penelitian ‘eksploratif’, penelitian ‘deskriptif’, penelitian ‘komparatif’, penelitian ‘verifikatif’, penelitian ‘konfirmatif’ dan sebagainya.
Penyelenggaraan suatu kajian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen: masukan, proses dan keluaran. Langkah-langkah dalam proses penyelidikan, pengkajian atau penelitian kental dengan upaya-upaya untuk menjadi tahu dari status semula: belum atau belum jelas diketahui atau pengetahuan yang ada belum memuaskan atau masih diragukan kebenarannya. Ini antara lain dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pengumpulan data empiris: pendeterminasian, pengenalan, pelacakan, perunutan, penelusuran, pemeriksaan, pengujian dan sebagainya.
Secara garis besar langkah-langkah pokok penelitian adalah:
(1) Menemukan (menjaring), mengenal lebih lanjut (menyaring) dan menyarikan/me-rumuskan masalah
(2) Menentukan pilihan pemecahan masalah
(3) Merumuskan pernyataan-pernyataan masalah dan jika ada pernyataan-pernyataan hipotesis penelitian
(4) Merumuskan sasaran, tujuan dan mungkin implikasi praktis kelak dari hasil penelitian yang direncanakan
(5) Merancang teknik dan prosedur pengumpulan data empiris
(6) Mengumpulkan data
(7) Mengelola, memeriksa dan menganalisis data
(8) Menafsirkan hasil analisis data
(9) Menarik simpulan-simpulan dan mungkin memberikan umpan-balik
(10) Membuat saran atau rekomendasi: generalisasi, implikasi dan perbaikan model
(11) Mengembangkan dan/atau menyebarluaskan hasil penelitian
Langkah-langkah di atas boleh jadi tidak lempang. Kegiatan-kegiatan mungkin saja merupakan suatu spiral langkah-langkah di mana pada suatu langkah mungkin ada suatu pilihan yang diambil untuk dijalani dari beberapa pilihan tertentu. Langkah yang diambil dapat berulang-balik (Babbie, 1989; 1990).

Statistika sebagai suatu alat dapat diperankan dalam nyaris semua langkah kegiatan penelitian. Pernyataan ini membantah pandangan tidak sedikit dari pengguna yang menyangka statistika terutama hanya diperlukan pada tahap pengolahan data.
Penelitian empiris akan berhubungan dengan data nyata yang belum tersedia atau sudah tersedia. Data yang didapat dari kegiatan pengumpulan data tentu diharapkan yang bermutu tinggi. Yaitu, data mutakhir yang didapat dengan cara yang sah, terandalkan, seksama dan teliti serta mencukupi rincian sesuai keperluan. Statistika ingin berhadapan dengan data ‘berkualitas’ tinggi, baik untuk peubah-peubah penelitian yang ‘kualitatif’ maupun ‘kuantitatif’, untuk dianalisis secara ‘kuantitatif’. Statistika tidak dapat berbuat banyak terhadap “messy data”. Dalam statistika berlaku pandangan "garbage in garbage out".
Seperti halnya dengan metode ilmiah yang bekerja dengan data empiris statistika tidak dapat bekerja dengan peubah yang atribut-atributnya tidak dapat diukur atau dinilai.
Dengan data dari peubah-peubah terukur ada teknik statistika yang mampu membangkitkan peubah-peubah konsep. Atau sebaliknya, untuk suatu peubah terukur terberikan faktor-faktor konseptualnya.
Kegiatan-kegiatan itu dapat dipandang sebagai suatu proses iteratif dalam menemukan ilmu, yang bagaikan kegiatan-kegiatan tanpa akhir. Dari suatu pemecahan masalah mungkin akan lahir masalah baru yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Suatu penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang diperlukan untuk memperluas cakrawala ilmu-pengetahuan. Jadi, masalah yang akan diteliti haruslah yang belum atau belum tuntas terpecahkan. Ini tidak harus merupakan masalah yang benar-benar baru dan sama sekali belum pernah diteliti sebelumnya. Karena pada umumnya suatu penelitian merupakan bagian dari proses iteratif (Box, Hunter dan Hunter, 1978) dari ranah data (fakta/gejala/data empiric) ke ranah teori (model/hipotesis/ konjektur) atau sebaliknya dalam usaha menemukan ilmu-pengetahuan untuk mengembangkan suatu teori atau bahkan mungkin mendapatkan suatu teori baru.
Suatu penelitian untuk tujuan memahami sendiri suatu konsep atau teori tertentu dalam proses belajar dan digunakan untuk diri sendiri, tidak untuk maksud memberikan sumbangan teori baru (atau memperbaiki teori lama) yang akan memperkaya khasanah ilmu-pengetahuan, merupakan suatu kecuali.
Status suatu penelitian mungkin merupakan suatu bagian dari suatu seri penelitian-penelitian dari suatu ‘payung’ penelitian’ bercakupan lebih luas atau berjangka panjang. Kita mengenal adanya pentahapan dalam penelitian tertentu mengenai suatu masalah, lebih-lebih yang diselenggarakan oleh suatu lembaga penelitian. Penelitian-penelitian serupa dengan suatu penelitian yang direncanakan mungkin telah ada dan informasinya tersedia.
Jarang ada suatu penelitian yang benar-benar merupakan suatu penelitian perintis. Memang betul fakta menunjukkan bahwa dari sekian banyak penelitian yang dilakukan, cukup banyak yang tidak ditulis laporannya. Di antara yang telah ditulis laporannya cukup banyak tidak dikomunikasikan dalam bentuk terbitan dan selanjutnya di antara yang diterbitkan itu mungkin hanya sedikit dari masyarakat ilmiah telah membacanya dengan kritis.
Oleh karena itu, langkah arif sebelum merumuskan pernyataan masalah ialah lebih dahulu menelaah temuan-temuan sebelumnya, mempelajari teori-teori atau konsep-konsep yang ada dan dapat digunakan untuk penelitian yang hendak dirancang. Yaitu, yang berkaitan dengan kenyataan atau gejala yang dihadapi sebagai masalah kini. Jadilah perenung dan pemikir asli, bukan sebagai penjiplak membabi-buta. Kemajuan ilmu tidak terjadi hanya dengan selalu meniru apa yang telah dilakukan orang lain, dengan menggunakan serba prosedur dan teknik yang tepat sama. Berusahalah untuk menjadi penggagas atau penemu asli yang produktif. Perkecualian barangkali jika yang dimaksud ialah untuk alih pengetahuan dan teknologi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar